[Mixtape] Les Amis du Voyage

Oleh: Usie Fauzia

  1. Suri – Magenta

      1.b. Suri – Dadh Ghad

  1. Squrl – I’m So Lonesome I Could Cry
  2. Squrl – Pink Dust
  3. Sigmun – The Summoning
  4. Sigmun – The Long Haul (Long Version)
  5. Pink Floyd – The Great Gig in The Sky
  6. The Velvet Underground – All Tomorrow’s Parties (Alternate Instrumental Mix)
  7. Frank Zappa – Peaches En Regalia
  8. Frank Zappa – Watermelon In Easter Hay
  9. Pink Floyd – Alan’s Psychedelic Breakfast
  10. Pink Floyd – Careful  With That Axe, Eugine
  11. Pink Floyd – Set the Control for The Heart of the Sun
  12. Pink Floyd – Echoes part. 2
  13. Pink Floyd – The Grand Vizier’s Garden Party, Pt. 2-3

“Soundtrack of my life”  terkesan sangat remaja dan sma sekali, maka saya menggantinya dengan istilah “Scoring for your trip”. Seharfiahnya scoring, musik instrumental ini saya susun sebagai teman perjalanan. Perjalanan apapun. Sebebas-bebasnya puan tuan mendefinisikan perjalanan. Bahkan duduk atau jongkok di wc pun bisa menjadi perjalanan karena banyak orang mendapat ilham saat proses itu berakhir. Tidur pun perjalanan, saya pernah mendesain sebuah bangunan yang konsep imajinya didapatkan dari mimpi.

Saya terinspirasi dari film-film Jim Jarmusch dan Quentin Tarantino yang mengawinkan musik dan skenario hingga melahirkan suasana yang asik dalam satu frame film. Ngelamun pun penting untuk dilengkapi dengan soundtrack, siapa tahu sebuah fatwa tiba-tiba muncul gara-gara ngelamun tripping sambil dengar musik. (Tidak melulu harus psikedelik, lagian di jaman sekarang sa tidak bisa membedakan musik psikedelik dengan ambient-elektronik. Biarlah saya terjebak pada romansa tahun 60-an dan 70-an untuk mendefinisikan apa itu musik psikedelia). Sederhananya, saya merasa kreator musik-musik ini  keren hingga kita tidak perlu katalis buat berimajinasi. Modal satu: headset. Modal dua: waktu untuk ngelamun.

  1. Suri – Magenta

Mendengar Magenta karya band Jakarta ini, ingin rasanya sa menggambar sebuah gurun dengan jerami-jeraminya yang tergelinding oleh angin. Tidak lupa beberapa kaktus. Dan silakan kalian memilih untuk berjalan kaki atau naik motor kesayangan sambil membaca puisi karya William Blake. Sangat gersang, lambat, permainan gitarnya membuat deg-degaan, dan efek yang mengawang. Seperti menarik otak kita untuk terbang, tetapi kakimu tetap terpaku pada lumpur yang lengket.

Suri memilih untuk main bawah (istilah yang saya ciptakan sendiri). Mengusung nada-nada psikedelik rock, (sedikit)sludge, stoner rock, dan segalanya yang disimbolkan dengan perjalanan musik yang lambat, menekan kesadaran, sleep paralysis, kaki yang tertahan lumpur, distorsi yang sangat berat, dan perjalanan tanpa ujung yang mendebarkan. Perjalanan pertama saya bersama  Suri adalah melalui Gurun Nestapa, sebuah album split Suri dan Serigala Jahanam yang diterbitkan di tahun 2010 secara gratis melalui jaringan Yes No Wave Record. Magenta merupakan intro pada  album berikutnya yang berjudul Kisah Kasih Lokalisasi yang dirilis pada  tahun yang sama. Layaknya sebuah hidangan pembuka, dia mempersiapkan kita pada pengalaman rasa selanjutnya.

1.b. Suri – Dadh Ghad

Perjalananmu di gurun ternyata belum selesai, kamu malah memilih untuk tersesat lebih lama. Dadh Ghad dirilis melalui album Space Rider pada tahun 2012. Sebuah lagu yang atmosferik menyenangkan namun betotan bassnya membuat saya sulit melangkah, bagaimanapun ini stoner rock. Sejauh ini, Dadh Ghad merupakan musik instrumental Suri yang palig saya kagumi. (Sayangnya Spotify tidak memilikinya.) Gini ya, tidak ada yang lebih insecure dan vulnerable dibanding seorang diri di sebuah gurun yang berangin, tidak ada siapa-siapa, tetapi kamu merasa dunia memperhatikanmu. Tidak ada jalan lain selain mencoba keluar dari perasaan kerdil. Cobalah keluar untuk mencari proksemik yang baru.

  1. Squrl – I’m So Lonesome I Could Cry

Trio avant-garde ini menciptakan musik yang bikin sakit kepala. Menjagokan efek droning dengan riff yang berat dan tempo yang lambat, lagu ini membuat saya makin insecure, berhenti berjalan, dan akhirnya menangis. Sebenarnya tidak terlalu instrumental karena ada yang menyanyi pada lagu ini. Tapi eksperimen efeknya lebih dominan dari pada nyanyiannya. Jadi, saya masukan ke dalam daftar.

Pengalaman pertama saya dengan musik avant-garde adalah melalui John Cale dari The Velvet Underground. Duet mautnya dengan Lou Reed berhasil membuat Venus In Fur  menjadi lagu droning terfavorit untuk saya. Jejak efek droning-nya John Cale masih bisa terdengar pada album debut The Stooges yang ia produseri. Terutapa pada lagu We Will Fall. Om Si Ram Ja, Ram Ja Ja Ram. Jadi memutar jauh nih. Apa hubungannya The Stooges dengan Squrl selain produser mereka, John Cale, yang menjadi bagian dari gerakan music avant-garde. Jim Jarmusch, yang merupakan bagian dari Squrl, nyatanya adalah fans dari Iggy Pop – The Stooges. Kita bisa lihat keberadaan Iggy Pop dalam film-film-nya Jarmusch. Ya, belyo juga sutradara film. Filmnya yang terkenal adalah Only Lovers Left Alive dan soundtrack+scoring-nya luar biasa. Hmm, tampak terdengar seperti sebuah cocoklogi .

  1. Squrl – Pink Dust

Pink Dust dibawakan oleh Squrl dengan lebih menyenangkan. Lebih banyak permainan melodi dibandingkan I’m So Lonesome I Could Cry yang sangat muram. Namun, tetap dengan efek droning yang bertempo lambat. Sayangnya durasinya yang 6 menit terlalu lama buat saya. Melodi dan distorsinya terlalu monoton. Mendengar lagu ini seperti bertemu dengan kawan seperjalanan berlogat Perancis yang sangat cerewet. Namun, soliloquy-nya pada lagu ini menambah warna eksperimental. “Un-deux-trois”

  1. Sigmun – The Summoning

Belum beranjak dari musik yang menjagokan distorsi. Tapi tunggu dulu deh, memang intronya masih berat. Tetap sabar sampai mendengar ke tengah lagu. Lagu yang dirilis dalam album Crimson Eyes ini terdengar sedikit stoner rock di awal-awal, tapi makin ke tengah makin seru dan temponya makin cepat. Saya tidak akan menduga untuk bertemu dengan The Four Horsemen of Apocalypse gara-gara lagu ini. 50% imajinatif-50% hard rock a la Black Sabbath. Kalau masalah musikalitas, saya tidak akan bahas lebih dalam karena Sigmun bisa jadi band yang paling dibincangkan setelah review Crimson Eyes-nya masuk ke laman Vice Indonesia dan mengesahkannya menjadi musik yang baik untuk asupan otak.

  1. Sigmun – The Long Haul (Long Version)

Sebelum mengetahui album Cerebro dari Sigmun, saya mendengar The Long Houl dari album split Suri/Sigmun/Jelaga yang konser peluncurannya diadakan di bukit Moko. Yaaa… waktu itu belum musim gig hippies(-ter) yang (maunya) menyatukan alam dan musik sih. Okay. Jadi, kalau dari tadi disajikan dengan musik yang bertempo berat dan lambat, The Long Houl saya hadirkan sebagai transisi tempo dan tekstur lagu. Tetap unggul pada distorsi, tetapi ini lebih adem. Entah mungkin dipengaruhi suara sayup lolongan dari sang vokalis, sila dengar sendiri.  Kalau boleh membedah, versi panjang The Long Haul bisa dibagi menjadi 3 bagian. Berangkat dari tempo lambat dan less noise, 6 menit berikutnya kita digiring pelan-pelan ke dunia yang lebih berisik hingga klimaks di menit-menit terakhir. Namun, kita tidak sedang buru-buru kan, sampai harus memotong-motong lagu. 15 menit Long Haul adalah The Art of Doing Nothing. Diam saja dan silakan hanyut dalam permainan musik mereka. Memang cokok untuk perjalanan nanjak ke bukit Moko.

  1. Pink Floyd – The Great Gig in The Sky

Diambil dari album tersukses Pink Floyd, The Dark Side of the Moon, The Great Gig in the Sky adalah lagu yang paling konseptual dan abstrak di album ini (menurut saya). Dibumbui oleh beberapa dialog dan teriakan Clare Torry, ketiadaan lirik tidak membuat lagu ini miskin makna dan tidak kalah dengan lagu eksploratif Pink Floyd lainnya, seperti Money atau Time. Sederhana, tapi juga menggelora. Intro pada lagu ini layaknya “the calm before the strom”, sehabis itu kamu akan merasa ditabrak oleh badai emosi, entah itu depresi, marah, vulnerability, kesedihan, dan mungkin kekerdilan yang jadi satu.
“And I am not frightened of dying, any time will do, I don’t mind.
Why should I be frightened of dying? There’s no reason for it”

Setelaah dinasihati dengan petuah di atas, malah ingin melompat terjun bebas dari bukit saja. Atau mengendarai mobil menembus badai pasir ala Mad Max sambil teriak dan menangis sejadi-jadinya. Dunia terlampau kejam hingga membiarkan kamu tetap hidup. Badai pasir memang telah usai, tapi tidak dengan badai pikiranmu. Tempo melambat, begitu juga dengan emosimu. Masih dengan termehek-mehek, mobil terus berjalan. Hanya ada satu cara keluar dari dunia yang menertawakan mu : bunuh diri,  « il n’y a qu’un problème philosophique vraiment sérieux : c’est le suicide » (Camus, 1942 : 17) atau balik melawan sambil menertawakan balik dunia. Pada akhirnya, ternyata menertawakan diri sendiri dan orang lain lebih asik. Oke, bahasan lagu ini absurd.

  1. The Velvet Underground – All Tomorrow’s Parties (Alternate Instrumental Mix)

Maafkan saya karena memaksa mereka untuk hadir di sini, karena:  1. Saya suka paduan ekplorasi alat musik mereka tampa membuat lagu ini menjadi berisik. Lagu ini teratur dan bertempo konstan. 2. Saya suka permainan piano John Cale yang repetitif. 3. Saya suka permainan gitar ostrich-nya Lou Reed yang terkesan nyentil. 4. Saya suka permainan drum bass-nya Mo Tucker yang monoton, terlebih pada intro, sangat memberi momentum. 5. Saya suka permainan bass Sterling Morrison yang menonjol walaupun dia bukan pemain bass. 6. Saya tidak bisa lepas dari The Velvet Underground (& Nico) jika sedang membicarkan music psikedelik. 7. Lagu favorit setelah Venus in Fur. 8. Lagu favoritnya Andy Warhol (penting).

  1. Frank Zappa – Peaches En Regalia

Mari memasuki dunia yang lebih menyenangkan dengan salah satu lagu dari album Hot Rats (1969) karya Frank Zappa. Album ini dipenuhi dengan ledakan. Zappa cs. tidak hanya mengulik melodi gitarnya, tetapi mengeksplorasi instrumen lain seperti bass betot, violin, keyboard, flute, dan terompet. Hasilnya adalah nuansa yang diberikan oleh Peaches En Regalia yang sangat enejik, seperti kolase kertas warna-wani yang harmonis. Sebenarnya ingin saya masukan semua lagu Hots Rats, tetapi Peaches En Regalia cocok untuk jadi representasi album ini. Kamu cocok untuk menyerahkan diri pada musik-musik di album ini dan biarkan badanmu ambil alih. Tidak meninggalkan jati dirinya dengan melodi khas 60-an, eksplorasi Zappa pada beberapa lagu sedikit mendorong batasan genre dengan menghadirkan unsur jazzy pada lagu Little Umbrella dan bass funky yang menggoda telinga pada The Gumbo Variation. “Just surrender to the music!”

  1. Frank Zappa – Watermelon In Easter Hay

Kalau kamu tidak tahu bahwa ini adalah permainan gitar imajiner dari Frank Zappa, mungkin lagu ini akan dituduh sebagai hasil karya Roger Waters cs. Ada unsur monolog, musik yang membangun suasana, tempo lambat, dan dominasi melodi. Memang sepintas sangat Pink Floyd-ish. Ya, tapi, ini adalah karakter lain pada Frank Zappa selain musik 60-annya yang sangat eksploratif a la Peaches En Regalia dan album-album sebelum Hot Rats. Albumnya pada tahun 70-an lebih sedikit kalem. Sedikit-sedikit menyapu hasil adrenalin gara-gara ledakan eksploratif lagu sebelumnya.

  1. Pink Floyd – Alan’s Psychedelic Breakfast

Sesuai judulnya, seharfiahnya sarapan. Hitung-hitung pembuka untuk lagu Pink Floyd selanjutnya.

  1. Pink Floyd – Careful With That Axe, Eugine

Entah kenapa, keistimewaan album-album Pink Floyd pra-The Dark Side of The Moon adalah  membiarkan instrumen yang bercerita. Karena makin mendekati 2000-an, permainan musik mereka semakin ambient-elektronik. Bukan berarti album pasca TDSOTM jelek, buktinya saya tetap menggilai The Wall. Ini hanya hal perbandingan dan selera. Kalau mau menganalogikannya dengan seni patung, saya bisa mengeluarkan istilah “biarkan material yang bicara”. Begitu pula permainan Water cs. pra-TDSOTM, “biarkan instrumen dan komposisi yang bicara.” Mungkin juga gara-gara Ummagumma diciptakan dari legacy kreativitas Syd Barrrett dan eksplorasi baru David Gilmour, sehingga menciptakan musik yang lebih progresif, ditambah modal Water cs. yang memang super kreatif.

Permainan yang diam-diam mematikan. Saya mendeskripsikan lagu ini seperti adegan film thriller psikologis. Permainan bass Waters di awal lagu menuntun penonton untuk fokus pada satu subjek. Tempo bass yang konstan ditambah efek gitar yang menyentil, tetapi tidak mendominasi, menggiring penonton untuk lebih fokus dan melihat lebih dekat terhadap si subjek. Klimaks lagu terjadi setelah tokoh utama membisikan sebuah kalimat, dengan matanya yang terbelalak, “Careful with that axe, Eugine..” dan penonton tidak tahu apa yang selanjutnya yang terjadi. Hanya dapat membayangkan sebuah chaos yang disertai dengan teriakan dan distorsi.

  1. Pink Floyd – Set the Control for The Heart of the Sun

Sebagai seorang héliophile, karya dari The Saucerful of Secret ini seolah-olah menjadi hymne. Bila membandingkan dengan versi live pada Ummagumma, versi rekaman ini lebih less noise, lebih mistikal. Ditulis oleh Roger Waters, katanya sih, lagu ini adalah satu-satunya lagu Pink Floyd yang digarap lengkap oleh 5 personil Pink Floyd. Saksi transisi dari Syd Barrett ke David Gilmour. Maka perbedaannya cukup jelas terdengar pada versi live pada Ummagumma, eksperimennya menitikberatkan pada noise dan efek gitar. Sedangkan pada versi The Saucerful of Secret, eksplorasi berada pada instrumen yang dipakai. Jadi, lebih cocok dipakai untuk dewa matahari di piramida Aztec. Kita pasti akan terbawa oleh ritme drum yang dimainkan Nick Mason. Ritme purba yang biasa dipakai dalam upacara adat yang menyebabkan para penarinya menjadi transenden.  Sangat intim.

  1. Pink Floyd – Echoes part. 2

Pink Floyd berhasil mendekonstruksi lagu lama mereka Echoes (dari album Meddle) dan memodifikasinya dengan lebih progresif pada album live mereka di Pompeii. Hasilnya adalah 14 menit yang luar biasa. Sebuah music score yang cocok untuk perjalanan ke kota kuno Pompeii dan membayangkan ulang bencana letusan gunung yang menenggelamkan peradaban kota kuno tersebut. Dibuka dengan efek droning dan suara angin yang mengajak kita untuk membayangkan lansekap Pompeii yang berbukit. Dilanjutkan dengan komposisi yang dapat mengalirkan adrenalin hingga klimaks lagu yang mungkin menceritakan tentang ledakan gunung  berapi. Fase cooling down memberikan suasana refleksi terhadap kota Pompeii yang sudah menjadi puing-puing. Bagian yang paling aneh adalah bagian akhir lagu yang memainkan efek detak jantung dan napas ngos-ngosan yang lebih terdengar seperti nafas legendaris Darth Vader.

Sejauh ini, Live at Pompeii (1972) adalah album Pink Floyd favorit saya. Alasannya satu: karena edan sekali. Walaupun lagu-lagunya berasal dari album terdahulu, semua lagu yang dimainkan pada album ini dimodifikasi dan terdengar lebih keren dari versi sebelumnya. Saran saya, kamu mendengar album ini dalam format flac (atau minimal 320 kbps) dengan menggunakan headphone HD dan berurutan dari trek pertama hingga akhir (tentunya kamu boleh melewatkan trek yang berisi wawancara dan dialog antar personilnya). Dijamin eargasmic.

Yang paling edan adalah, album ini adalah album yang direkam secara live pada sebuah amphiteater terbuka di Pompeii. Kualitas yang oke banget untuk sebuah musik yang direkam di luar ruangan. Ekspedisi mereka ke Pompeii pun diabadikan dalam format film dokumenter dan dirilis untuk mempromosikan album The Dark Side of The Moon. Dalam film, kita tidak hanya disuguhi tampilan live mereka di amphiteater Pompeii bersama suguhan relik dan artefak sisa-sisa kota kuno tersebu, tetapi juga proses kreatif mereka saat menggarap materi TDSOTM. Yang tak kalah menarik adalah suguhan live dari Mademoiselle Nobs. Lagu yang dimodifikasi dari Seamus (Meddle) ini menyuguhkan anjing betina yang bernyanyi dan hasilnya berbeda sekali dengan lolongan pada Seamus. Oohhh, dan jangan lupa David Gilmour (yang masih muda) memainkan harmonikanya.

  1. Pink Floyd – The Grand Vizier’s Garden Party, Pt. 2-3

Permainan eksperimental 7 menit yang cocok menjadi epilog. Diambil dari album (lagi-lagi) Ummagumma yang terinspirasi dari mitologi Sisyphus. Klimaks dan antiklimas bergabung menjadi satu seperti komposisi yang random. Eksplorasi berbagai instrumen. Ketuk sana dan ketuk sini.  Saya mendefinisikanya sebagai kompleksitas pikiran dan kehidupan manusia yang diujung perjalanannya tetap dapat membuahkan “happy ending”. Semanis hidup Sisyphus yang kita bayangkan bahagia. Semanis komposisi The Grand Vizier’s Garden Party part 3. Komposisinya bertolak belakang dengan part 2-nya. Cocok sebagi musik penutup sebuah dongeng atau pada film dan membubuhkan kata “The End” dengan font klasik pada layarnya.

Bandung, November 2016

Tambahan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *