Ketakutan, Harapan dan Dunia Apocalips

Oleh: ¬†Henrikus Setya Adi P Narasi distopian telah lama menjadi bentuk memikat dan pemikiran hiburan, terutama bagi mereka yang mengambil minat dalam mempelajari struktur sosial dan politik. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa tontonan box office yang mencoba mereproduksi tentang wacana tersebut. Dari klasik seperti Nineteen Eighty-Four dan Brave New World, Water World, World War Z hingga yang hits saat ini The Hunger Games, cerita ini bermain dalam tema ketakutan, harapan sekaligus sebagai tanda-tanda peringatan untuk masa depan kita. Hidup kita yang selalu didorong oleh rasa takut, kemudian direproduksi menjadi harapan yang muncul setelah ketakutan itu dapat dikelola. Ketakutan itu membuat kita teralienasi untuk menghabiskan dan terus mengkonsumsi. Mendorong kita untuk menjadi individu yang apatis dan menarik diri dari masyarakat. Mengutip kata Niccolo Machiaveli dalam The Prince “Karena cinta dan rasa takut dapat tidak ada bersama-sama, jika kita harus memilih antara mereka, itu jauh lebih aman untuk ditakuti daripada dicintai.” Penyebaran ide-ide tentang sebuah proses kehancuran dunia terus direproduksi dengan berbagai macam cara. Gambaran tentang dunia yang hancur dalam The Colony, The Maze Runner, Armageddon, 2012, The Day After Tommorow hingga misi penyelamatan umat manusia dalam Interstellar. Melalui semua itu, ketakutan dan harapan diproyeksikan sebagai sesuatu yang saling berhubungan. [Baca Selengkapnya…}